The Stage is Yours, tips-tips berbicara di hadapan publik

Buku ini memuat berbagai tips-tips singkat untuk melakukan komunikasi lisan di hadapan publik. Mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga setelahnya. Buku ini juga memuat tips-tips singkat tentang beberapa profesi yang memanfaatkan kemampuan berbicara di depan publik. Jadi, tips dalam buku ini mudah diterapkan, dengan disertai banyak contoh :)

Pre-Order buku ini dapat dilakukan sejak hari ini, hingga 15 Desember 2011 dengan diskon 30%.

Harga asli buku ini adalah Rp49.000,00. Pesan hari ini, untuk mendapat harga Rp34.300,00. Setelah 15 Desember 2011, harga kembali normal. Dan harga belum termasuk ongkos kirim.

Silakan hubungi 0813-2187-3330 untuk melakukan pemesanan. No rekening tujuan akan diberikan kemudian, dan pengiriman dilakukan setelah transfer diterima oleh kami.

Beberapa testimoni yang sudah masuk :

“Membaca buku ini serasa mendapat coach langsung dari penulis, karena ditulis dengan bahasa lisan yang ringan dan sarat dengan pengalaman lapangan. Seolah penulis tahu apa saja masalah yang hendak dikonsultasikan para pembaca kemudian menyajikan solusinya dengan apik. Layak disantap!”

Irfan Agustiyan Darfiansyah, S.Si, Apt. (MC berbagai acara dan seminar, moderator, pengajar tahsin)

“menjadi pembicara yang inspiratif adalah impian kebanyakan orang di dunia ini. Terkadang mereka bukannya tidak mampu, hanya saja mereka belum pernah mau mencoba. Buku ini memberikan narasi yang sangat renyah bagi kamu yang ingin dapat “menghipnotis” banyak orang. Baca bukunya, perbanyak latihan dan… Ya ! The Stage Will Be Yours”

Ridwansyah Yusuf Achmad. Writer, Trainer, Speaker

“presentasi yang tidak menarik hanya akan membuat penontonnya tidak nyaman. Oleh karena itu, presentasi harus dikemas secara menarik, seperti pertunjukan. Tanpa berkesan menggurui, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang menarik dan menghibur, persis seperti seorang vokalis band yang siap menghibur fansnya”

Puji Prabowo, BeswanDjarum

“Public speaking adalah sebuah seni tertua yang dimiliki umat manusia. Menguasai seni public speaking adalah sebuah keharusan bagi setiap orang yang ingin maju. Public speaking adalah “senjata utama” yang digunakan nabi, filsuf, ulama, diplomat, negarawan, hingga pebisnis dan pejuang sosial dalam mengemukakan pendapatnya dan menggalang dukungan.

Namun di Indonesia, sayangnya public speaking tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal dan kita sudah terlalu sering dipertunjukkan “public speaking” ala pejabat pemerintahan yang sayangnya kebanyakan membosankan dan tidak menginspirasi.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Terangkum dalam buku ini adalah tips-tips simpel dan aplikatif untuk memecah ketakutan anda ketika maju ke depan khalayak, sekaligus memberi  anda alasan untuk percaya diri dan menjadi bintang panggung. Dan membaca saja tidak cukup. Teruslah ambil setiap kesempatan untuk berbicara di depan umum.”

Selamat membaca.

Radix J. Hidayat. Kurator TEDxBandung

“Buku wajib yang harus dibaca..kebanyakan orang dalam hatinya banyak yang ingin diucapkan  tapi kata – kata itu tidak keluar,alias blank sesaat,bukan karena tidak tau jawaban apa yang ditanyakan,tetapi karena grogi jadi semua hilang sesaat. Nah, dengan membaca buku ini, anda tidak perlu menjadi orang lain. Hanya dengan menguasai situasi dengan tenang, maka kita akan bisa mengucapkan kata dan kalimat yang mudah dimengerti oleh lawan bicara kita. Be authentic..sukses to Ikhwan..”

Yusni Marlina. Professional Communication Trainer

“Saya percaya, buku yang ditulis oleh ahli di bidangnya-lah yang benar-benar mampu membawa perubahan bagi pembacanya…. salah satunya adalah buku ini”

-Surya Kresnanda- Master Trainer Humanforce-

Leave a Comment

Filed under book summary

ramahnya penyiar radio

Para pembaca yang budiman, tahukah anda bahwa mendengarkan radio adalah pekerjaan sambilan? Yup, pekerjaan yang dilakukan sembari mengerjakan pekerjaan lain. Dan biasanya, cenderung mengutamakan pekerjaan lain tersebut daripada pekerjaan ‘mendengarkan’. Betul tidak para pembaca yang budiman? Sopir angkot yang memutar radio, tentu lebih mengutamakan pekerjaan menyetir dan menerima ongkos perjalanan dari penumpang, daripada pekerjaan ‘mendengarkan radio’ kan? :D

Nah, bicara tentang mendengarkan radio, para pendengarnya ternyata bermacam-macam. Mulai dari sopir angkot yang saya sebut di atas, atau pelajar sekolah yang mendengarkan radio di rumah setelah pulang sekolah, atau para pebisnis. Radio sebagai media, memang memegang peranan penting dalam penyebaran informasi. Kita ambil contoh saja untuk segmen remaja. Bagi kalangan muda ini, radio berfungsi sebagai trendsetter, karena melalui media ini, remaja bisa mendapatkan informasi tentang gaya bicara, gaya hidup dan cara berperilaku.

Kalau begitu, tugas penyiar radio dari stasiun radio itu sebenarnya apa sih? Kan sudah tahu ya, segmen pendengar radio itu bermacam-macam. Kemudian, mendengarkan radio itu juga bukan prioritas utama. Berarti, tugas penyiar radio untuk menyampaikan informasi semakin berat yah. Berat karena harus membuat audiens tertarik dengan bahasan (minimal sampai jadi aktivitas sambilan), itu yang pertama. Kemudian, pada tahap kedua, membuat informasi benar-benar sampai ke benak pendengar.

Lantas, seperti apa menjadi penyiar radio yang baik itu? Nah, ini ada beberapa tips yang harus anda terapkan, bila ingin menjadi penyiar radio yang baik:

Miliki suara yg “hear-catching”. Ini memang jadi jurus utama para pendengar. Dan ini juga yang jadi alasan stasiun radio merekrut penyiar radio. Hear catching lebih karena penekanan suara pada nada-nada tertentu dalam kalimat. Pernah dengar penyiar radio menyapa pendengar kan? Nah, kira-kira seperti itu. Biasanya juga, penyiar radio harus mampu menggunakan kosakata yang dianggap “gaul” oleh para pendengarnya. Tentu, “gaul” disini, harus disesuaikan konteks segmen masing-masing. “gaul” versi remaja tentu berbeda dengan “gaul” versi ibu-ibu.

Mudah dicerna. Penyiar radio sebaiknya tidak memakai bahasa yang berat. Jangan pakai bahasa kamus lah. Pakai bahasa sehari-hari saja. Maksudnya, jangan pake kosakata yang jarang digunakan orang. Pakai yang umum-umum saja. Untuk diingat, segmen pendengar anda memang berasal dari satu kelompok segmen, yang memiliki kesamaan karakteristik tertentu. Tapi, tingkat pendidikan mereka bisa sangat beragam. Dan ini mempengaruhi penguasaan kosakata yang mereka miliki. Tentu saja, tidak semuanya menguasai banyak kosakata. Tapi mereka semua pasti menguasai sedikit kosakata.

Sistematis. Tips ini terutama ketika penyiar radio, sekaligus menjadi moderator dalam acara yang memiliki narasumber sebagai pemberi informasi. Sistematis artinya, mulailah dengan suatu latar belakang yang menarik. Apa karena sedang trend, atau karena informasi ini akan berguna bagi segmen tersebut, dan lain sebagainya. Kemudian masuk ke materi yang ingin banyak dibahas atau diinformasikan kepada para pendengar. Berikan jeda iklan di waktu yang tepat. Jeda juga tidak harus iklan, bisa berupa lagu juga. Berikutnya, ketika kembali ke acara, lakukan review kembali. Supaya pendengar benar-benar menangkap informasi secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong.

Atur flow pendengar biar terkesan “rapi”. Tidak cuma masalah tersampaikannya informasi secara baik, tapi “image” juga penting. Ini tidak hanya image penyiar, melainkan image stasiun radio juga. Caranya? Relative gampang. Yang pertama, jangan terlalu cepat. Terlalu cepat berarti kita juga mengajak pendengar kita untuk mendengar secara cepat. Padahal, mendengar radio adalah aktivitas sambilan kan?

Kedua, atur aliran informasi secara “Smooth” alias halus. Perpindahan flow dari materi ke iklan ke lagu, dan sebaliknya harus dilakukan secara halus. Berikan jeda berupa lagu, sesaat pada pemberian informasi, untuk menanamkan lebih dalam informasi yang ingin disampaikan. Berikan simpulan singkat sebelum materi mendapat jeda iklan atau lagu. Mulai dengan review singkat sesaat sebelum materi kembali dimulai.

Leave a Comment

Filed under Moderator

Menjadi Resepsionis Handal

Suatu waktu di Jakarta, saya menghadiri panggilan wawancara kerja. Sembari menunggu di lobby perusahaan tersebut, saya mengamati kinerja resepsionis disana. Kebetulan, sejak pertama datang, saya juga sudah langsung menghubungi beliau, yang langsung bertanya, “selamat pagi. mau ketemu dengan siapa, pak?” sapaan tersebut diiringi dengan senyuman lebar. Setelah beliau tahu saya ingin bertemu dengan siapa dan beliau sudah menghubungi, saya duduk menunggu di tempat yang disediakan. Kemudian, sembari menunggu, saya melihat beliau menjalankan tugasnya: melayani tamu perusahaan seperti yang saya ceritakan sebelumnya, menyapa semua karyawan yang datang, menerima telepon dari perusahaan supplier atau distributor mereka. Tampaknya, pekerjaan yang sederhana dan sepele (remeh). Tapi jadi tidak remeh karena pekerjaan itu terus-menerus dilakukan sejak pagi hingga sore. Sedikit saja konsentrasi buyar, bisa berabe itu pekerjaan. Sedikit saja terbawa emosi akibat urusan kantor yang lain, atau urusan keluarga, bisa berabe juga itu pekerjaan.

Persisten. Gigih. Ini yang pertama. Karena seorang resepsionis selalu mengerjakan pekerjaan yang sama dari pagi hingga sore. Kebosanan adalah kata pertama yang harus dihadapi. Karena kebosanan bisa mengarahkan resepsionis pada keteledoran dalam pekerjaannya. Misalnya, menghadapi tamu perusahaan dengan wajah yang tidak ramah & senyum yang tidak tersungging di bibir. Atau juga, lupa menukarkan KTP tamu dengan ID card “tamu”/”pengunjung” pada tiap tamu perusahaan yang datang.

Baik dan ramah. Baik karena selalu memberikan layanan terbaik kepada antar bagian dalam perusahaan dan kepada perusahaan lain. Resepsionis di perusahaan tertentu, ada kalanya ditugaskan untuk menyambungkan antar bagian dalam perusahaan melalui telepon intra-perusahaan. Resepsionis juga harus ramah kepada perusahaan lain, karena ini adalah salah satu cara untuk menampilkan citra baik perusahaan.

Kenal dengan banyak orang dan tahu posisi mereka di perusahaan. Karena itu resepsionis harus ramah kepada karyawan dalam perusahaan, resepsionis harus mengenali berbagai nama dan posisi yang jumlahnya sangat banyak itu. Makanya, beberapa karakter seringkali menjadi kriteria untuk menjadi seorang resepsionis. Misalnya, supel. Supel artinya pandai bergaul. Biasanya mereka yang berkarakter supel, mudah untuk mengingat wajah, nama dan “siapa” orang lain itu. Biasanya juga, mereka adalah pribadi yang SKSD: “sok kenal sok dekat”. Karakter seperti ini akan sangat menunjang karir seorang resepsionis yang handal.

Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional harus juga dikuasai oleh resepsionis. Bila ini dikuasai oleh resepsionis, maka ini adalah senjata ampuh yang dapat membawa karir sang resepsionis melompat setinggi-tingginya! Wajar, ini adalah bahasa pergaulan yang dipakai secara internasional. Bertemu dengan tamu dari negara lain, ekspatriat dari eropa atau amerika, misalnya. Bahkan, kadang-kala eksekutif perusahaan harus diajak berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Demikian empat hal yang akan memperkuat kinerja, posisi dan karir seorang resepsionis di dalam perusahaan. Empat hal yang sebenarnya semua resepsionis pasti punya, tetapi dalam kadar yang berbeda-beda. Padahal, kadar tersebut yang akan memperkuat citra profesional seorang resepsionis. Berminat menjadi resepsionis? Sebaiknya anda terapkan empat kriteria di atas.

Leave a Comment

Filed under Moderator

Kaya dari Public Speaking

siapa yang tidak kenal olga syahputra? presenter ini selalu diminta menjadi pembawa acara oleh berbagai stasiun televisi. bukan cuma karena kocaknya, tapi juga karena ke-lihai-annya memandu acara. meski selalu menjadi bulan-bulanan Raffi Ahmad di suatu acara musik televisi swasta nasional, tapi olga selalu di hati para pemirsa.

dan jangan heran, kalau sekali waktu, anda nongkrong di depan televisi seharian saja, maka anda akan melihat wajah olga hampir di semua acara televisi. pagi di acara musik, kemudian siang hari di acara yang lain, sore juga masih tampil, malam kemudian ikut menjadi presenter. beliau tentu seorang presenter profesional. artinya, kocak dan pintar memandu di atas panggung, tetapi profesional bila bekerja sama dengan pihak penyelenggara acara. dua hal ini yang membuat public speaking selalu menjadi rezeki bagi Olga Syahputra.

itu baru dari seorang presenter. padahal kemampuan public speaking bukan cuma milik presenter seorang saja.  kemampuan public speaking adalah kemampuan yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang yang ingin sukses di karir masing-masing. kebetulan, salah satunya adalah presenter. sebaiknya kita tidak berpandangan sempit dengan beranggapan bahwa hanya presenter yang membutuhkan kemampuan public speaking.

insinyur di perusahaan juga membutuhkan, koq. mereka kan harus presentasi kepada atasan dan kepada rekan sejawat. baik tentang rancangan konsep mereka, atau pun ketika melaporkan hasil pekerjaan. benar tidak? kesuksesan para insinyur menjadi semakin mantap ketika mereka mampu merancang, melaksanakan dan melaporkan apa yang mereka kerjakan. apalagi ketika hasil nyaris mendekati rancangan yang sudah dibuat. kalau sudah begini, karir akan gampang naik.

karir karyawan di bagian corporate sales pun sangat dilihat dari kemampuan mereka menjual. karena, seperti kita tahu, pekerjaan corporate sales adalah menawarkan produk/jasa ke perusahaan lain. dan berhasil tidaknya mereka, tentu sangat dipengaruhi oleh kemampuan menawarkan bukan? nah, melakukan penawaran kepada calon konsumen kan salah satu bentuk public speaking. dan sebagai orang pemasaran, kinerja mereka dilihat dari seberapa banyak produk/jasa yang mampu mereka jual. berhasil menawarkan, berarti akan berhasil menjual, berarti karir bisa menanjak lebih cepat.

penyanyi handal tidak hanya bersuara bagus. tidak hanya paham musik. tapi juga bisa menguasai audiens, menguasai keadaan panggung, dan lain sebagainya. dan semua kemampuan itu termasuk public speaking. ini yang membedakan satu penyanyi dengan penyanyi yang lain. membedakan penyanyi kelas dunia dan tidak. membedakan mereka yang akan berkarir cemerlang atau tidak. membedakan mereka yang akan terus bersinar atau cepet meredup.

makanya, perkuat kemampuan public speaking anda. supaya anda bisa mendapat rezeki berlebih dengan kemampuan public speaking anda :D

Leave a Comment

Filed under introduction

Ibarat belajar renang

saya yakin, orang yang di-cemplung-kan ke air pasti bisa berenang. kalau dia tidak bisa renang, dia akan berusaha supaya tetap mengapung. kalau masih kelelep (air terus-menerus masuk lewat mulut dan hidung), berarti dia masih kurang usaha untuk terus bergerak di dalam air.

tapi seseorang tidak harus dilempar dulu baru bisa berenang kan? pasti ada caranya supaya bisa berenang tapi tidak dengan cara dilempar ke air. ya tidak?  caranya? ya belajar. mulai di kolam yang tidak dalam, atau diajar oleh pelatih renang, dan seterusnya. yang jelas, tidak dengan baca buku “cara berenang yang baik”, kan? :D

iya, karena orang yang cuma tahu teori, tidak pernah praktik, maka dia tidak bisa menjalankan teori itu. tau ga, dalam otot-otot kita ada sel syaraf juga. dan disinilah ilmu itu (juga) disimpan. tidak semuanya ada di syaraf otak. hasil belajar dari baca buku, disimpannya di otak. tapi hasil belajar lewat pengalaman, disimpannya di syaraf di otot-otot kita.

makanya, orang yang cuma baca, tapi tidak melakukan, maka dia tidak akan belajar apa-apa dan dia tidak akan bisa apa-apa. sama seperti belajar renang lewat baca buku, public speaking juga seperti itu. orang yang cuma membaca buku “cara public speaking yang baik dan benar” tidak akan bisa melakukan public speaking. percaya deh. kemampuan ini, cuma datang dari tiga kata: latihan, latihan, dan latihan.

tapi latihan sendiri saja, percuma. kalo tidak ada yang memberikan umpan balik (feedback). kalau tidak ada yang memberikan kritik dan saran, tetap saja percuma. latihan sendiri di kamar? percuma, karena tidak ada audiens. latihan di depan cermin? iya bisa menyempurnakan penampilan kita. tapi yang melihat, memberi saran dan kritik, tetap saja cuma diri kita sendiri lho.

hajar langsung tanpa latihan? ya tidak baik juga, yang ada kita tidak tahu selera audiens. kita tidak tahu cara public speaker terbaik melakukannya. seperti kita tidak tahu bagaimana seorang Steve Jobs, CEO Apple Inc, mempersiapkan diri untuk sebuah public speaking. seakan kita tidak tahu bagaimana Martin Luther King mempersiapkan pidatonya yang termashyur itu: I Have a Dream.

maka dari itu, belajar public speaking itu ibarat belajar berenang. mungkin bisa kalo dipaksakan sendiri, tapi percayalah hasilnya tidak akan maksimal. belajarnya juga bukan dengan membaca buku teori (saja). tapi juga dengan berlatih. berlatih juga tidak hanya berlatih sendiri, sebaiknya selalu berlatih bersama orang lain. sehingga ada saran dan kritik yang membangun.

nah, maka dari itu. bergabunglah bersama kami di Amazing Public Speaking School. anda tidak hanya akan tahu teori saja, tapi anda juga akan berlatih. tapi bukan berlatih sendiri, melainkan bersama-sama kami semua. sehingga, anda dan kami, akan saling menyempurnakan kemampuan public speaking satu sama lain. kami tunggu kehadiran anda di Amazing Public Speaking School!

Salam sukses :)

1 Comment

Filed under introduction

suatu waktu di pelatihan komunikasi lisan dan tulisan

“Ada yang ingin ditanyakan?”

Sungguh saya ingin memulai dengan kalimat itu di suatu pelatihan komunikasi lisan dan tulisan. Saya geregetan sekali ingin mengucapkan kalimat itu. Karena, sejak kedatangan saya di ruang pelatihan, saya merasa tidak seorang pun yang kurang suatu apa. Ya, tidak seorang pun tidak bisa melakukan apa yang disebut dengan komunikasi.

Semuanya bisa berbicara. Tidak kurang suatu apa di bibir dan mulutnya. Tampak tidak ada kesulitan, karena mereka berbincang-bincang satu sama lain. Itu yang terlihat di mata saya, maka sungguh saya ingin bertanya, “Ada yang ingin ditanyakan?”

Di saat yang nyaris bersamaan, saya mengamati bahwa mereka tampak terpelajar. Ya. Tidak. Ya, mereka tampak terpelajar. Tidak, mereka benar-benar terpelajar. Mereka bisa membaca tulis, tentu saja. Seorang yang terpelajar tentu saja bisa membaca tulis. Dan karena itu, saya pun ingin bertanya dengan pertanyaan yang sama, “Ada yang ingin ditanyakan?”

Apa yang menghadirkan mereka ke ruangan ini? Apakah benar ini semua hanya masalah nyali dan keberanian? Atau adakah alasan yang lain? Saya hanya berharap, memang ada yang ingin mereka ketahui, secara teknis atau secara detail. Karena itu, pertanyaan saya adalah, “Ada yang ingin ditanyakan?”

Kembali ke inti acara. Kembali ke kenapa saya diundang dan hadir di sini.

Pertama, harus kita sadarkan dulu diri kita bahwa komunikasi adalah kemampuan dasar yang penting. Karena, tanpa komunikasi yang mumpuni, ide kreatif anda tidak akan sampai pada orang lain. Orang lain jadi tidak memahami anda dan tidak tergerak karena anda.

Kedua, komunikasi adalah skill. Komunikasi adalah keterampilan. Jadi bukan sesuatu yang tinggal dibaca dari buku, atau tinggal mendengarkan seorang dosen/guru bercerita di depan kelas. Komunikasi adalah keterampilan yang harus terus-menerus dilakukan (baca: dilatih).

Ketiga, tentang komunikasi lisan dan tulisan itu sendiri. Saya bagi ke dalam dua bagian: tulisan lalu lisan.

Tulisan yang menarik itu, berarti tulisan sebagai suatu karya seni. Dan yang terpenting adalah, seni bagaimana menuliskan ide itu yang penting. Karena seberapa dalam ide akan ditangkap oleh pembacanya, bergantung pada seberapa baik “cita-rasa” yang disajikan di dalam tulisan tersebut. Mulai dari pilihan kosakata, susunan kalimat, keterlibatan pembaca, dan lain sebagainya.

Komunikasi lisan yang baik, adalah komunikasi lisan yang sederhana. Sederhana dalam kalimat, tidak seperti kalimat majemuk. Sederhana pula dalam penyampaiannya. Sehingga orang mudah memahami. Seperti sederhananya kalimat Steve Jobs ketika launching produk-produk Apple Inc. Tapi tetap saja, yang penting adalah bagaimana ide tersebut sampai di benak audiens.

Kedua komunikasi itu adalah keterampilan yang terletak di otot-otot jari dan mulut kita. Sekaligus bahasa tubuh kita. Tidak bisa diajarkan dengan cara kuno: guru bicara murid mendengarkan. Tidak. Tidak. Tidak seperti itu. Keterampilan ini adanya di otot-otot kita. Bukan di otak kita. Makanya, kuncinya hanya tiga: latihan, latihan dan latihan.

Karena itu, bentuk yang tepat dari pelatihan komunikasi adalah workshop. Bukan seminar. Itu pun workshop dengan kuantitas minimal 5 kali. Setelah itu, juga harus diikuti dengan penampilan dan latihan yang konsisten. Jadi, pelatihan komunikasi ini, hanyalah sebuah awal. :)

1 Comment

Filed under introduction

Moderator yang Simple dan Smoothly

 

Dalam sebuah kegiatan seminar, inti acaranya adalah penyampaian suatu materi kepada hadirin. Mereka datang setelah mendapat informasi melalui baligo, spanduk, radio, televisi dan lain sebagainya. Hadirin tentu memiliki harapan tertentu tentang apa dan bagaimana materi disampaikan oleh pembicara. Ekspektasi ini kemudian sedikit demi sedikit dipenuhi melalui penyampaian materi. Dan mencapai puncaknya ketika sesi tanya jawab dilakukan.

Keberjalanan seminar yang baik dan efektif mencapai tujuan pemberian informasi ditunjang oleh beberapa elemen seminar. Mulai dari tata panggung, pencahayaan, tata suara (kapasitas speaker, microfon, dan lain sebagainya), termasuk orang-orang yang berperan di dalamnya : MC (master of ceremony), LO (liaison officer), dan terutama : moderator.

Moderator ini layaknya sebuah interface dalam komputer. Sistem operasi (operating system) komputer yag canggih sekalipun, akan memberikan kesulitan bagi para penggunanya ketika tidak memiliki interface yang simple dan smoothly. Sama dengan moderator seminar. Moderator yang baik, adalah moderator yang bisa menjembatani pembicara dan hadirin secara simple dan smoothly. Moderator yag berkualitas, akan memimpin jalannya seminar dengan smooth (halus), secara perlahan mengatur tempo pemberian informasi. Tujuannya agar hadirin benar-benar bisa menangkap informasi seutuhnya dan sesederhana mungkin dalam alokasi waktu yang diberikan panitia.

Biasanya, MC akan mengawali acara seminar dengan salam, tentu saja. Kemudian berlanjut dengan menyebutkan judul seminar yang sedang dilaksanakan. Setelah sedikit pengantar, MC akan meminta seorang dirigen untuk memimpin lagu Indonesia Raya. Lagu ini tidak selalu ada, tapi alangkah baiknya bila penyelenggara membiasakan agar lagu ini selalu dinyanyikan. Kemudian, MC akan mempersilakan moderator untuk maju ke panggung dan mulai memimpin jalannya seminar. Kita misalkan, moderatornya adalah anda.

Ketika sudah di depan panggung, sebaiknya anda memberikan sedikit pengantar. Semacam basa-basi memang, tapi karena moderator analog dengan interface, basa-basi ini penting bagi anda untuk menciptakan jembatan yang menghubungkan pikiran hadirin dengan materi seminar yang sesaat lagi akan diberikan. Berikut contohnya:

Saya adalah mahasiswa program bisnis administrasi, tapi saya juga pengajar siswa sekolah. Beberapa orang menyebut saya adalah pengajar, tapi saya sebenarnya tidak ingin disebut seperti itu. Saya lebih melihat apa yang saya lakukan sebagai memberi inspirasi. Karena, ketika mengajar matematika, fisika, kimia, saya yakin mereka tidak belajar banyak dari saya. Tapi mereka justru belajar banyak ketika mereka membaca sendiri, latihan soal sendiri, dan seterusnya. Ketika mereka bertemu dengan saya, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Memberikan alternatif solusi atas soal-soal yang mereka kerjakan. Mereka sesungguhnya butuh motivasi dari kita, contoh dari kita, dan kita menjadi teladan bagi mereka. Semua itu, saya sebut dengan “menginspirasi”.

Dan hari ini, kita akan bicara tentang inspirasi dalam dunia pendidikan. Inspirasi dari Indonesia Mengajar. Sudah hadir di antara kita, founder Yayasan Indonesia Mengajar, Bapak Anies Baswedan dan rekan beliau, Bapak Bambang Susantono. Keduanya akan mensosialisasikan program Indonesia Mengajar. Nanti kita bisa eksplorasi lebih lanjut, tentang apa sebenarnya program ini, syarat keikutsertaannya bagaimana, dan seterusnya.

Anda boleh membuat semacam yel-yel yang diteriakkan oleh hadirin. Tujuannya adalah agar meniadakan jarak antara kedua pihak. Kalau perasaan “ dekat” sudah  muncul di hadirin, mereka akan meningkatkan perhatian pada pembicara serta semakin antusias untuk bertanya. Tentu saja, yel-yel yag anda siapkan harus berkait dengan materi yang disampaikan.

Kemudian, undanglah pembicara anda menuju panggung dengan cara yang tidak biasa. Terserah anda, yang tidak biasa itu seperti apa. Saya sendiri biasanya mengundang dengan cara menyebutkan profil beliau. Aktivitas yang dilakukan, pekerjaan/jabatan, buku yang pernah ditulis, dan lain sebagainya. Baru kemudian saya menyebut nama beliau. Dan pembicara akan naik ke atas panggung.

Biasanya, pembicara lebih dari satu orang. Karena itu, selain kursi VIP (Very Important Person) di deretan depan kursi hadirin, di panggung juga disediakan kursi tangan dan meja. Setelah pembicara yang diundang duduk di kursi di panggung, barulah anda mengundang pembicara yang berikutnya. Lakukan terus hingga semua pembicara sudah ada di panggung. Tentu saja, tidak ada sesuatu kaku dalam “cara mengundang” ini. Ada boleh lebih kreatif, selama masih sesuai norma dan etika di wilayah itu.

Selama pembicara menyampaikan materi, panggung dan waktu adalah milik mereka. Tidak boleh diusik oleh anda. Setelah anda mempersilakan pembicara untuk berbicara, tugas anda hanyalah mengawasi penggunaan waktu oleh mereka. Tidak boleh diinterupsi oleh anda. Bila waktu hamper habis, segera ingatkan mereka. Tentu dengan cara yang santun. Biasanya, dengan memberikan kertas kecil bertuliskan “maaf pak/ibu, waktunya tinggal 5 menit lagi. Mohon menyesuaikan”. Tapi tidak ada aturan yang kaku, sebenarnya. Anda sebagai moderator, tinggal menyesuaikan dengan etika setempat.

Sebelum sesi tanya jawab, giringlah para hadirin untuk bertanya. Munculkan semangat dahulu, dengan yel-yel yang sudah anda buat. Kemudian berikan sedikit simpulan, tentang apa yang sudah disampaikan. Berikan motivasi untuk bertanya, kemudian buka sesi Tanya jawab. Untuk memudahkan anda, berikan batasan jumlah penanya dan berapa pertanyaan yang ditanyakan. Jangan lupa memberi tahu, berapa lama sesi Tanya jawab akan dilakukan. Sebisa mungkin, buatlah penanya berasal dari kelompok hadirin yang berbeda : kanan, tengah dan kiri. Setelah itu, rangkumlah pertanyaan yang sudah anda dapat. Agar dengan mudah dan sistematis dijawab oleh para pembicara.

Tutuplah seminar dengan suatu rangkuman. Bila ada, kutiplah kalimat yang menggugah para hadirin dan memberi pesan kuat pada hadirin. Agar pesan inti dari pembicara, bisa dibawa keluar ruangan, dan tertancap di benak hadirin. Kalimat ini bisa berasal dari spanduk yang menjadi latar panggung, kata-kata pembicara, atau kalimat yang ada di presentasi pembicara.

Mudah kan, menjadi “moderator yang simple dan smoothly”? yang penting, persiapkan diri anda. Latihlah berbicara menjadi moderator di depan cermin di rumah anda. Bila perlu tuliskan di atas kertas, semua yang ingin anda katakan. Datanglah ke tempat acara sehari sebelumnya untuk melihat panggung, kursi hadirin, tata cahaya, efek suara, dan lain sebagainya. Bila perlu, berlatihlah lebih dulu di sana. Di hari-h, jangan lupa datang lebih dulu daripada pembicara. Semoga sukses! J

Leave a Comment

Filed under Moderator